Samantha Loner. Sendiri, sesepi namanya. Sehening hidupnya.
Loner Street terletak di bawah bayang-bayang gedung-gedung perkantoran kota New York. Seperti sebuah lorong yang tidak pernah hidup. Seperti sebuah tempat pemakaman. Keberadaannya seperti sebuah misteri, disembunyikan dan tidak ada pernah di peta kota. Orang-orang tertentu menyebutnya sebagai lorong tikus, lorong kecoa atau sejenisnya. Petinggi kota tidak pernah membicarakannya. Mendengarkan namanya saja membuat mereka ingin muntah. Tetapi, untuk sebuah kebenaran maka kisah Samantha Loner harus kuceritakan.
***
Samantha Loner tinggal di salah satu apartemen di Loner Street dengan Linda, ibunya, wanita yang telah meninggalkan luka di wajah dan tubuhnya. Dan kalau bisa kugambarkan lebih detail lagi, dialah wanita yang membuat pelipis matanya perih. Wanita yang pernah memukulnya hingga gigi gerahamnya tanggal. Wanita yang mematahkan jari tengah tangan kanannya. Wanita yang pernah mendorongnya jatuh dari tangga. Wanita yang meninggalkannya di kamar pengap sejak pertama kali ia hadir di dunia dan kembali lagi sekedar memberi susu (yang lebih banyak air daripada susunya). Well, Kalau itu belum cukup membuatmu merasa iba padanya, aku akan mengatakan penderitaannya lebih jauh. Namun kau jangan terlalu membencinya karena kasih sayangnya melebihi kekejamannya, begitulah yang Samantha Loner katakan.
Ia lahir menjelang tengah malam dibantu tetangganya, seorang wanita berumur empat puluh tahun yang lebih terlihat seperti berusia enam puluh tahun. Wanita ini yang mengurusnya kemudian dan memberinya nama sementara Linda menyumpah-nyumpah kesetanan karena masih merasakan sakit luar biasa. Samantha, begitulah Linda memberikan nama seperti nama yang ia inginkan jika mempunyai seorang putri. Sedangkan Loner sebagaimana kautahu diambil dari nama jalan. Tapi dengan cara ini Linda memanggilnya. “Bayi sialan! Berhentilah menangis!”
Wanita baik itu bernama Nyonya Lourie. Panggilan nyonya bukan karena ia telah menikah tetapi ia senang dengan gelar itu. Ia yang diam-diam merawat Samantha ketika Linda pergi, mengajarkannya membaca, menghitung, menulis dan memberinya sebuah buku berjudul In Cold Blood di ulang tahun Samantha yang kelima (Samantha Loner bisa membaca sejak usia empat tahun). Samantha membacanya berulang-ulang, menjaganya agar jangan sampai rusak. Dari buku itu ia mengenal rangkaian kalimat, bermain-main dengan kata-kata dan menulisnya di tembok di balik lemari. Ia membuat puisi dan haiku yang kesemuanya menceritakan tentang manusia yang paling dicintainya: ibunya. Tetapi ia tidak ingin coret-coretannya terbaca Linda atau jika tidak maka ia akan mendapat hukuman. Ny. Lourie bahagia menjaganya seperti memiliki anak sendiri. Ia selalu mengatakan pada Samantha bahwa Linda mencintainya lebih dari apapun dan jangan sekali-sekali mengecewakannya. Ny. Lourie meninggal di kamarnya sendiri ketika usia Samantha delapan tahun. Jack menyuruh anak buahnya melempar mayat Ny. Lourie ke tempat sampah melalui jendela di lantai tiga. Samantha pernah bertanya pada ibunya kemana Ny. Lourie pergi. Linda bilang padanya bahwa Jack telah mengusir Ny. Lourie dan kini Jack yang menempati kamarnya.
Samantha berusia tujuh tahun saat melihat Linda bergelut telanjang bulat dengan Jack di lantai. Ia mencoba mengerti. Ia baru mengerti setelah Jack dan Linda menyelesaikannya penuh keringat, dan ketika Jack melemparkan lembaran uang pada ibunya. Ia berpikir dengan cara itulah Linda mendapatkan uang. Mungkin Jack adalah bos ibunya sehingga ia harus hormat padanya. Tapi rasa hormat itu segera hilang setelah Jack menariknya, melemparnya ke sofa dan menciumi lehernya. Jack akan melakukan seperti yang dia lakukan pada Linda. Mungkin ia akan mendapatkan uang. Tapi ia terlalu kecil untuk dihujani dorongan-dorongan keras Jack. Ia menggulingkan tubuhnya hingga jatuh ke lantai kemudian bangkit dan berlari keluar kamar lalu berdiri sembunyi di balik dinding. Jack datang memburunya, mengejutkannya dan membekap mulutnya. Mungkin Samantha hanya seorang anak kecil, tetapi ia tidak menangis. Ia tahu mengalahkan rasa takutnya. Ia menggigit lengan Jack hingga Jack berteriak kesakitan, memaksa Jack perlu menendangnya hingga terjungkal di tangga, membuat tulang kering kakinya retak dan bengkak dan sejak saat itu Linda memanggilnya si pincang.
Samantha tidak pernah berada keluar gedung. Hidupnya sempit, jendela kamarnya pun berhadap-hadapan dengan tembok. Ia bisa merasakan air hujan yang turun melalui sela-selanya. Terkadang ia menduga-duga pemandangan luar dari majalah yang pernah Ny. Lourie berikan. Ia memimpikan kehidupan di dunia luar, melihat bentuk mobil yang sebenarnya, warna-warni kota dan hiruk pikuk jalanan.
“Katakan padaku tentang dunia luar” ia berkata pada seekor merpati yang bertengger di sudut jendelanya. Burung merpati itu hanya menggeleng kepalanya, membuat Samantha tersenyum. “Kamu lucu.” Burung merpati itu terbang tinggi. Samantha memandanginya hingga hilang di balik gedung.
Hujan bertambah deras, angin menerbangkan kertas-kertas, menggoyang tirai, uap embun menutupi kaca jendela. Samantha menggambar dirinya di kaca dengan jarinya, lalu menghapusnya hingga ia bisa melihat jelas seekor musang berlari di atas kabel. Di Bawah gedung, anjing-anjing Loner Street berteduh di bawah tempat sampah sedangkan Loner Street sendiri hampir kebanjiran.
***
Samantha tidak menangis. Ia tidak pernah menangis untuk orang lain kecuali untuk Linda ketika wanita itu sakit. Linda sekarat, nafasnya sesak megap-megap, batuknya seperti mengeringkan paru-parunya sementara Samantha hanya bisa memandang sedih.
Samantha tahu kata dokter, obat, kesembuhan dan uang mempunyai hubungan. Tapi ia juga kehabisan makanan. Satu-satunya cara mendapatkan semuanya adalah keluar dari apartemennya. O, jika ia bisa memilih antara kesehatan ibunya dan keinginannya melihat dunia luar maka ia akan memilih ibunya menjadi sehat. Tapi ia tidak punya pilihan.
Ketika pertama kali meninggalkan apartemen kumuhnya, ketika melangkah menuju ruang cahaya di ujung lorong, ia seperti tidak akan pernah berhenti menutup mata. Menatap langit yang redup, parade orang-orang berjalan cepat, mobil-mobil warna-warni, gedung-gedung tinggi yang menembus langit, benda-benda yang ia tahu namanya, benda-benda yang tidak ia tahu namanya, benda-benda yang ia tebak dalam pikirannya yang sama dengan yang ia lihat di majalah. Satu hal yang luar biasa saat berada di luar adalah ia dapat membaca banyak tulisan; tulisan-tulisan elektronik berjalan, tulisan-tulisan di balon besar, tulisan-tulisan di bis, tulisan-tulisan besar di papan dan semuanya, dia seperti akan membaca semuanya. Terkadang suatu tulisan membuatnya tertawa, dan berpikir bahwa si penulis tidak bisa menempatkan kalimat atau kata-kata, padahal tulisan-tulisan itu hanya slogan iklan.
Lama ia berdiri sebelum kaki pincangnya dibawa menuju taman; tempat pertama, terindah dan satu-satunya yang akan selalu ia kunjungi. Ia tidak akan pergi terlalu jauh karena terlalu takut tidak akan kembali bertemu ibunya. Ia duduk di kursi taman. Orang-orang yang melihatnya pastilah bertanya-tanya makhluk apa yang ada di hadapan mereka? Rambut panjangnya kusut dan berdebu, lengan jaketnya panjang hingga menenggelamkan telapak tangannya dan baunya apek.
Ia memerhatikan orang-orang di taman satu per satu dengan hati-hati. Mempelajari dan meniru gaya mereka dengan malu-malu, menganggap orang-orang yang duduk dan membaca di bangku taman adalah seperti dirinya; sendiri dan tidak diperhatikan. Ia melangkah perlahan mendekati seorang wanita muda yang sedang membaca novel seperti kucing yang sedang mengintai tikus. Semakin mendekat semakin ingin tahu buku yang dibaca wanita itu. Wanita muda itu hampir melempar bukunya saat melihat seorang gelandangan dengan bau yang bukan kepalang sedang jongkok di hadapannya. Kontan ia segera meninggalkannya dengan setengah berlari sambil menutup hidungnya.
Tapi Samantha terbiasa dengan baunya sendiri. Menurutnya, baunya itu bukan datang dari tubuhnya melainkan dari baju tebalnya. Ia menciuminya dan kemudian mengangguk setuju dengan wanita muda tadi.
Awan-awan hitam bergerak perlahan, sinar matahari meredup, angin bertiup dingin seakan sedang mengusir orang-orang yang berada di taman. Sebuah tetesan air jatuh di ujung hidungnya. Samantha menyentuhya dengan telunjuk kanan, memerhatikannya lalu mengalihkan pandangannya ke langit, menatap butir-butir air hujan yang berjatuhan. Orang-orang berlarian mencari tempat teduh, beberapa siap dengan payungnya. Tapi ia tetap tidak bergerak. Ia sedang merasakan pengalaman pertama kejatuhan air hujan di dunia luar. Ia menutup matanya, menghirup dalam-dalam bau hujan dan membayangkan sedang berada di sebuah tempat yang ia sendiri tidak tahu. Sebuah tempat yang indah seperti taman ini.
Sesaat kemudian ia merasa kedinginan. Ia membuka mata dan melihat tempat yang sepi. Burung-burung merpati berteduh di ranting-ranting pohon, menutup tubuhnya dengan sayap-sayapnya. Kabut tipis menghalangi pandangan, tapi ia dapat menemukan bangku taman. Di atasnya ada koran dan roti yang ditinggalkan pemiliknya. Ia mengambilnya, menyimpannya di balik jaketnya dan berlari tertatih-tatih ke luar taman, melewati pinggiran toko dan kemudian menemukan belokan menuju lorong Loner Street.
***
Perempuan kurus yang ia panggil ibu tidur sepanjang hari dan hanya terbangun sesekali untuk mencari makanan. Ia menemukan roti basah dan segelas air putih di atas meja. Dengan lidahnya yang pahit, ia menghabiskannya, mengabaikan rasanya. Samantha tidak pernah melihatnya bangun. Ia hanya berada di dekatnya saat dia tidur dan bersenandung di telinganya, melantunkan sebuah lagu yang pernah ia dengar namun tidak ingat syairnya. Love is Blue yang dinyanyikan Ny. Lourie saat ia bayi. Setelah membelai rambut ibunya dan membuatnya nyaman, ia berjalan menuju jendela kamarnya dan membukanya, menjulurkan kedua tangannya, menampung air hujan dengan telapak tangannya dan meminumnya. Ia menutup jendela lalu duduk di pinggir ranjang. Bayang-bayang dunia luar masih ada dalam pikirannya. Ia mengambil koran yang masih basah, meletakkannya di atas lantai, membukanya dengan hati-hati dan membacanya dengan teliti agar tidak melewati satu kata pun.
***
Hari berikutnya Samantha bangun pagi-pagi benar, meninggalkan ibunya yang masih tidur. Ia memakai baju warna merah muda dengan tali di pinggangnya pemberian Ny. Lourie. Warnanya agak pudar tapi baunya tidak seburuk jaketnya. Ia masih mencium bau pertama kali baju itu diberikan padanya. Ia masih bisa mencium bau Ny. Lourie. Celana panjangnya berwarna hitam, jahitannya di ujungnya sudah lepas sehingga hampir menutup sepatunya. Ia menggulungnya hingga terlihat sepatunya yang kusam, menyisir rambutnya dan mengikatnya sama seperti model iklan di majalah. Ia terlihat cantik walau berjalan pincang. Ia membawa In Cold Blood yang dibungkus dengan plastik dan mengira akan menjadi seperti mereka; orang-orang yang membaca di taman.
Meski tempat itu masih sepi, tapi sudah ada beberapa orang yang berolah raga. Samantha duduk di bangku pertama kali ia duduki. Burung-burung merpati berkumpul di jalanan, sebagian bertengger di pepohonan. Ia menghitungnya. Ny. Lourie yang mengajarinya menghitung angka. Linda pernah mengajarinya menghitung uang. Ia mengatakan bahwa uang itu sesuatu yang paling penting di dunia. Jadi, ia harus bisa menghitungnya karena menghitung uang itu lebih baik dari membaca.
Di jam delapan, seorang wanita tua duduk di ujung bangkunya dengan sebuah tas coklat yang diletakkan di pangkuannya, memandang ke arah burung-burung di hadapannya. Wanita tua itu kelihatan gembira berada di taman ini seperti dirinya. Ia membuka tasnya, mengeluarkan sebuah kantong plastik, mengambil biji-bijian dari dalamnya dan melemparkannya ke jalanan. Dalam sekejap burung-burung datang bergerombol mematukinya. Ia terus melakukannya hingga biji-bijian di dalam kantongnya habis. Ia masih punya kantong lainnya dan melakukan hal yang sama. Lalu tiba-tiba ia berhenti melempar karena tahu seseorang sedang memerhatikannya. Ia menengok ke arah Samantha dan menyapanya. Samantha membalasnya dengan ragu. Wanita tua itu memberi isyarat pada Samantha agar duduk di dekatnya. Tapi Samantha butuh beberapa saat untuk percaya padanya. Ia mendekatinya dengan hati-hati. Wanita tua itu meminta Samantha untuk memberikan tangannya. Dengan ragu-ragu Samantha mengulurkannya. Wanita tua itu memegang dan membuka telapak tangan Samantha dengan lembut, menaruh biji-bijian ke atasnya lalu membawanya turun dan membiarkan burung-burung datang dan mematukinya. Samantha merasa kegelian dan gembira.
Ia meminta Samantha memanggilnya nenek. Bukan nenek dari siapa-siapa karena ia tidak memiliki cucu. Tiga anaknya mati muda karena TBC. Ia menjelaskan sedikit tentang penyakit itu padanya sementara Samantha membayangkan ibunya mengidap penyakit TBC. Linda batuk keras sekali dan terkadang mengganggu Ny. Dune yang sedang tidur di kamar sebelah. Tapi nenek tidak bisa menemani Samantha berlama-lama karena harus membuka toko bukunya yang berada di seberang taman. Ia akan kembali di jam makan siang dan menantikannya di tempat yang sama.
***
Apartemennya gelap waktu siang dan malam kecuali Samantha menyalakan lampunya yang redup. Perempuan kurus itu terbangun dari tidurnya dan melangkah keluar kamarnya. Jalannya gontai, matanya hampir tidak bisa dibuka. Perutnya lapar dan ia tidak menemukan sepotong makanan. Tapi ia masih menyimpan tiga botol bir di lemarinya. Jika semuanya habis, maka habis pulalah hidupnya, begitulah yang ia pikirkan. Jack tidak pernah lagi mengunjunginya. Tidak ada yang mau mendekati orang sakit. Tidak juga anak sialan itu yang malah pergi meninggalkannya. Ia minum birnya hingga setengah botol, kemudian menghabiskan yang setengahnya lagi, dan tidak berapa lama ia ambruk di lantai.
***
Samantha membaca ulang In Cold Blood. Ia bisa menghitung rata-rata berapa kali ia membaca buku itu dari pertama kali hingga hari ini. Pastinya sudah lebih dari dua ratus kali, dan ia yakin ia bisa menceritakannya sama dengan isi buku tanpa sekali pun melihatnya. Perutnya lapar dan ia kehausan. Ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mengelilingi taman, berharap menemukan sepotong roti lagi. Tapi hari itu tidak hujan. Mungkin karena itulah orang-orang menghabiskan roti mereka, pikirnya. Ia berhenti di depan air mancur yang memancar dari anak panah sebuah patung cupid kecil, menangkup air dalam kolam dan meminumnya. Meski merasa lebih baik tetapi ia masih kelaparan. Di sekelilingnya tidak terlihat peruntungan. Tapi nenek datang padanya, memanggilnya untuk menemaninya bercakap-cakap dan … sedikit makan siang. Nenek memberinya sepotong roti sandwich sedangkan ia sendiri menikmati buburnya. Samantha hanya separuh memakannya karena ia berniat menyimpannya untuk ibunya.
“Kau kenyang?” Nenek berkata, melihatnya memasukkan potongan roti ke dalam sakunya.
“Aku meyimpannya untuk ibuku” jawab Samantha lirih.
Jawabannya membuat nenek merasa bersalah. Ia berhenti melemparkan potongan roti pada burung-burung dan memberi Samantha semua simpanan roti di dalam tasnya.
Suatu kali nenek melihatnya membaca In Cold Blood. Menurutnya buku itu bukan untuk anak kecil. Keesokan harinya ketika bertemu kembali ia memberikan To Kill A Mockingbird pada Samantha.
Toko buku tuanya berada di dalam sebuah gedung tua. Antara toko buku dan gedungnya sama-sama tua, sedangkan usia pemiliknya hanya tinggal menambah angka tiga puluh tiga. Sebelumnya nenek memiliki seorang pembantu yang bertugas mengurus toko. Tapi pembantunya meninggalkannya satu minggu lalu karena tidak mendapatkan gajinya selama dua bulan. Selama seminggu nenek mengurus tokonya sendiri, dan itu membuatnya letih dan ingin mati. Beruntunglah ia menemukan Samantha yang suka membaca. Ia tidak bisa membayarnya untuk membantu mengurus tokonya tapi ia bisa memberinya makan dan makanan untuk ibunya yang sakit.
“Kau akan bekerja padaku. Kau akan mendapat makanan. Kau akan membaca banyak buku di sana.”
Malam harinya seperti malam-malam sebelumnya, Samantha duduk di samping Linda yang sedang tidur, membelai rambutnya, menciumi keningnya dan berbisik di telinganya, “Kita akan selalu punya makanan. Kita tidak akan kelaparan.” Tapi wanita itu tidak mendengarnya, sementara Samantha hanya mendengar bunyi nafasnya yang seperti kucing dan batuknya yang keras.
Keesokan paginya, lebih pagi dari hari sebelumnya, ia sudah berada di bangku taman dengan sebuah buku baru. Ia dapat menghitung waktu kedatangan nenek tanpa melihat jam. Ia terlihat cantik dengan baju panjang biru dengan rok biru dan kaus kaki putih hingga lututnya. Dan untuk pekerjaannya, ia dapat berpura-pura tidak pincang walau itu terasa sakit dan melelahkan.
Nenek membawanya memasuki ruangan yang redup. Samantha tidak bisa menduga isi di dalamnya. Nenek meninggalkannya di depan meja kasir sementara ia berjalan ke sudut ruangan di sebelah meja kasir untuk membuka tirai jendela. Sinar matahari masuk ke dalam ruangan, menerangi sebagian rak-rak buku dan buku-buku yang berkilauan di mata Samantha. Sementara Samantha masih dapat menahan dirinya untuk tidak mendatangi mereka dan membacanya. Nenek menyalakan lampu dan lampu-lampu pun bersinaran satu per satu hingga menerangi seluruh isi toko, membuat Samantha takjub. Baginya, ruangan itu adalah ruangan terbagus yang pernah ia lihat meski sebenarnya ruangan itu hanya sebuah ruangan rak-rak tua yang tidak terawat dengan debu-debu dan sarang laba-laba. Lampu-lampunya redup, mesin kasirnya kuno, langit-langitnya rapuh dan banyak bekas bercak air. Untuk membuka tirai jendelanya saja nenek membutuhkan tiga perempat tenaganya.
Nenek menyuruh Samantha duduk di kursi kayu tinggi di belakang meja kasir, lalu mengajarkannya cara membaca katalog harga, mencatat buku masuk dan buku yang baru dibeli, menggunakan mesin kasir dan menyusun buku. Tapi hari itu tugas Samantha hanya membersihkan rak dan buku-buku. Ia mengerjakannya dengan gembira meski kerap berhenti untuk membaca beberapa judul buku dan mengintip beberapa halamannya, membuat pekerjaannya melambat.
***
Perempuan kurus itu berjalan gontai keluar dari kamarnya. Tiap langkahnya menuruni anak tangga dapat mencelakakannya. Tangan kanannya gemetaran berpegang pada pagar tangga kuat-kuat dan mulutnya terus mengutuk anak perempuannya. Ia kehilangan keseimbangan dan terpeleset jatuh, kepalanya membentur dinding dan mengeluarkan darah. Ia beruntung tidak sampai pingsan dan karena itulah ia terus memaki anak perempuannya. “Dasar anak sialan, … anak sialan, anak brengsek!”
Ia terbangun di tengah malam, menemukan dirinya di atas ranjang. Di luar, jalanan terus mengeluarkan bunyi: orang-orang berteriak, anjing-anjing menyalak, bunyi-bunyi pemukul di tempat sampah dan beberapa kali letusan tembakan. Ia terbatuk beberapa kali sampai-sampai membangunkan Samantha. Samantha mendatanginya dan duduk di sampingnya seperti biasa, memberinya kehangatan dengan belaian di rambutnya. Tapi wanita itu tidak ingin belaiannya. Ia menatap Samantha dengan tatapan marah, nafasnya cepat secepat degup jantungnya.
“Kemana saja kau?” ia berkata, bibirnya gemetaran, tangannya merenggut baju Samantha. Samantha terlihat sedih. Sesaat kemudian wanita itu mengendurkan cengkraman dan membiarkan Samantha berdiri menjauh. Ia batuk lagi sampai-sampai merasakan perih di dadanya, membuat Samantha bertambah sedih karena teringat kata-kata nenek tentang TBC. Samantha melangkah mundur dan berlari ke dapur.
“Hei, mau kemana kau?” teriaknya. Tidak ada jawaban. Ruangan itu sepi.
Samantha datang kembali membawa segelas air putih hangat, kemudian mendekatkan bibir gelas ke bibir ibunya sementara tangan lain membimbing kepalanya agar dapat meraih gelas. Linda tidak membuka mulutnya. Ia menampar gelas itu hingga jatuh dan pecah di lantai. Samantha berjalan mundur lalu duduk di lantai bersandar ke tembok memandang ibunya yang tidak berdaya, tidak punya kekuatan untuk menghukumnya. Ia sedih, terlalu sedih.
***
Toko buku tua buka lebih pagi sejak kehadiran Samantha. Para pembeli kagum dengan kecepatan Samantha mendapatkan buku mereka. Toko buku tua bersinar lagi seperti kembali ke masa kejayaannya beberapa belas tahun silam. Nenek terlihat lebih segar dan mulai bisa menggaji Samantha. Ia membelikan Samantha sebuah mesin tik ringan di ulang tahun Samantha yang ke sepuluh, namun Samantha tahu caranya berterima kasih. Ia akan menuliskan cerita-cerita indah dengan mesin tik barunya.
“Kau bisa mendapatkan uang dengan cerita-ceritamu” ucap nenek setelah membaca sebuah puisinya. Tapi Samantha tidak terlalu memikirkan itu. Ia mengucapkan terima kasih untuk sebuah pujian yang lama ia tidak dapatkan sejak Ny. Lourie mengatakan bahwa ia seorang gadis kecil yang cantik.
***
Saat itu bulan terakhir pemilihan walikota dan nenek punya cerita sendiri tentang salah satu calonnya. Michael Halley, salah seorang kandidat walikota berasal dari tempat yang terpinggirkan seperti Loner street, pernah menjadi pencuri mobil saat usianya lima belas tahun dan keluar masuk penjara dengan kejahatan berbeda-beda, kebanyakan pencurian. Sebuah harapan muncul saat pendeta Moose mengambilnya dan membebaskannya dengan jaminan dirinya. Kini usianya empat puluh dua, kaya raya dan mempunyai peluang besar memenangkan pemilihan karena mendapat dukungan dari para pekerja dan orang-orang miskin.
“Dia sering main ke sini waktu kecil” ucap nenek pada Samantha. “Aku membuatkannya kue. Anak-anak memang suka kue, seperti kau Samantha. Mike akan menjadi walikota yang baik”
Hari itu nenek terus membicarakan tentang Michael Halley. Ia menceritakannya lagi hari berikutnya dan hari-hari berikutnya hingga Michael Halley terpilih menjadi walikota. Hari terpilihnya itu bertepatan dengan terbitnya biografinya. Nenek dengan bangga memajang buku-bukunya di etalase toko.
Walikota Halley tidak pernah melupakan toko buku tua dan wanita tua si pemilik toko. Tapi bukan karena kenangan masa kecil ia mengunjungi toko buku tua satu minggu setelah hari terpilihnya. Bagaimanapun juga toko buku tua dan tiga gedung di sebelahnya adalah tempat strategis untuk membangun menara Halley.
“Nona, aku baru saja kehilangan salah satu buku Capote. Tolong ambilkan aku In Cold Blood” Walikota Halley berkata pada si penjaga toko, Samantha.
Sudah lebih dari setahun Samantha tidak pernah membaca In Cold Blood. Ia masih ingat semua kalimat-kalimat dan letak halamannya. Ia ingin menunjukkan kemampuannya pada walikota mengenai gambaran detail kota Holcomb atau pemakaman keluarga Clutter. Tapi walikota adalah orang besar dan ia tidak mungkin macam-macam dengan orang besar. Sementara itu nenek dan walikota Halley masih saling mengingat, bercakap-cakap tentang masa lalu dan pembicaraan seputar jumlah nominal uang.
“Kau tidak perlu memikirkan hutang-hutangmu lagi. Menara Halley akan menjadi simbol kemenangan orang-orang miskin. Aku menawarkanmu harga terbaik” ucap Walikota Halley pada nenek.
Nenek tidak banyak berkata. Tidak pula membayangkan harga yang fantastis untuk sebuah toko buku tua. Terlalu banyak kenangan pada toko ini. Ia teringat pada suaminya ketika pertama kali mendirikannya. Membuat brosur promosi dan menawarkan makan siang gratis untuk dua puluh pembeli pertama. Usaha mereka berhasil. Toko buku tua, yang sebelumnya bernama K & Q (King & Queen), menjadi toko buku terlaris di NY. Tapi sayang suaminya tidak melihat K & Q tumbuh besar dan memiliki gedung tingkat tiga. Suaminya meninggal karena TBC. Ia membenci TBC sejak kematian anak-anaknya. Ia menyumbang sejumlah besar uang untuk tiap rumah sakit yang memiliki perawatan khusus untuk TBC dan membuatnya hampir bangkrut. Ia adalah seorang wanita yang bertahan meski K & Q berjalan tertatih-tatih. Beberapa tahun lalu nama K & Q diturunkan karena papan reklamenya dirusak anak-anak berandalan, dan sejak saat itu toko buku itu berubah nama menjadi Toko Buku Tua tanpa plang nama, sebuah nama yang sesuai dengan pemiliknya yang renta.
Tapi bukan dengan kenangan nenek menjawab tawaran walikota Halley. Tentu saja ia menerima penawaran walikota Halley. Bahkan wanita tua pun butuh bersenang-senang bukan? Ia akan membicarakannya dengan Samantha nanti. Anak kecil itu bukan apa-apa. Hanya seorang anak kecil yang ia pungut di taman dan ia beri makan dan pekerjaan. Barangkali Samantha akan kembali seperti biasa, bergentayangan di taman. Lagipula setidaknya ia akan membuat anak itu senang karena ia akan memberi beberapa buku padanya.
“Kurasa kita harus merayakan ini” ucap walikota Halley, lalu menyuruh pengawalnya mengambilkan satu botol sampanye di limosinnya. Barangkali nenek masih bisa menikmati minuman itu.
Nenek dan walikota Halley sengaja berpindah ruangan agar tidak terlihat Samantha dan sengaja lebih awal merayakannya. Walikota Halley sudah menyiapkan suratnya. Nenek menandatanganinya dan menerima sejumlah uang muka. Walikota Halley menyuruh pengawalnya membawakan tiga botol sampanye lagi. Kali ini khusus disimpan untuk nenek.
Mereka keluar ruangan dengan penuh senyum. Samantha ikut tersenyum. Walikota Halley hampir lupa bukunya jika Samantha tidak berjalan menghampirinya.
“Sir, Anda lupa bukunya” sapa Samantha. Walikota Halley berhenti berjalan dan melihat seorang bocah lugu datang padanya.
“Tentu. Aku akan menandatanganinya nak.” Walikota Halley benar-benar lupa. Tapi nenek sudah berdiri di samping Samantha, menukar In Cold Blood-nya dengan biografi walikota Halley.
“Ia sangat mengagumimu, Mike. Maksudku … pak walikota” ucap nenek tersenyum. Walikota Halley menyambut buku biografinya dan menandatanganinya.
“Ini dia, nak.” Ia berkata, menyerahkan buku itu pada Samantha.
“Ucapkan terima kasih, Samantha” bisik nenek pada Samantha
“Terima kasih, walikota Halley” ucap Samantha, memandangi walikota Halley hingga keluar dari toko.
Siang di awal Juni saat usia Samantha dua belas tahun. Toko buku tua sudah tergantikan dengan kerangka menara Halley, sebuah mega proyek pembangunan hotel mewah yang akan menyaingi pesona Empire State. Diperkirakan awal tahun depan menara Halley sudah selesai dan diresmikan. Samantha memandangi kenangan bersama nenek di toko buku tua. Ia menerima sepuluh dolar dari nenek untuk uang perpisahan dan sepuluh buku yang ia pilih sendiri. Ia tidak pernah tahu nenek meninggal lima hari setelah pertemuan dengan walikota Halley. Wanita tua itu nyatanya terlalu payah untuk menghabiskan satu botol sampanye sekaligus.
“Hei, pergilah! Ini bukan tempat untuk anak kecil” ucap salah seorang pekerja menara Halley.
“Tom, mungkin dia ingin makanan” ucap pekerja lainnya, mengeluarkan sebungkus roti dari kotak makan siangnya dan memberikannya pada Samantha. Samantha mengambilnya, mengucapkan terima kasih dan pergi meninggalkan tempat itu. Tapi ia tidak memakan rotinya. Ia membawanya pulang untuk Linda.
Samantha membersihkan dan menata ulang tempat tinggalnya. Apartemen itu memang lebih baik, tapi baginya tidak ada yang lebih baik dari melihat ibunya kembali sehat.
“Aku akan menulis. Aku akan membuat cerita, seperti penulis-penulis terkenal lakukan. Kita akan dapat uang” bisik Samantha di telinga ibunya. Ibunya mungkin tidak mendengarnya karena sedang tenggelam dalam tidur yang menyiksanya.
Samantha melepaskan pelukannya dan berjalan ke kamarnya. Ia duduk di hadapan mesin tik, memandanginya sesaat lalu memasukkan secarik kertas berwarna kuning yang ia dapatkan tadi siang di pinggir jalan. Kertas dengan noda minyak bekas pembungkus hotdog. Ia tidak segera menekan tombol-tombol mesin tiknya. Ia terdiam ketika mendengar suara batuk ibunya yang keras. Ia menangis.
Ia berjalan keluar keesokan paginya. Angin bertiup dingin namun matahari bersinar cerah dan menghangatkan. Samantha duduk di bangku taman mengenakan baju tebalnya, memandang kemegahan menara Halley yang hampir jadi. Ia masih hapal judul-judul buku yang dijual nenek, ia masih ingat letak penyimpanannya, ia masih ingin memegang mesin kasir tua itu. Ah, hampir saja ia terlena dalam lamunannya jika tidak teringat kalau ia harus mencari kertas untuk menulis.
***
Samantha menulis kisahnya sendiri, ditulis dengan detail yang indah tiap malam dari sudut pandang orang ketiga, seperti seseorang yang menjadi teman terdekatnya, menyaksikan kehidupannya. Malam-malam dimana ia membisikkan di telinga ibunya yang sedang tidur tentang kemajuan tulisannya dan mimpi-mimpinya. Seperti yang ia tulis di bawah ini:
Air mata dan kesedihan … mana yang membuatnya lebih sedih dari kehilangan ibunya. Air mata dan kebahagiaan … mana yang membuatnya lebih bahagia selain melihat ibunya bahagia.
Ia menggunakan kertas karbon bekas sebagai pengganti pita mesin tiknya yang habis. Ia pernah menggunakan kertas karbon sewaktu di toko buku tua. Jika kelihatannya kurang jelas maka ia akan mengetiknya dua kali. Begitulah yang ia lakukan tiap malam hingga pada suatu ketika ia akan menemukan akhir ceritanya. Ia pernah berpikir membuat sebuah akhir bahagia. Mungkin benar apa yang dikatakan nenek. Mungkin ia akan mendapatkan uang dari menulis. Seperti yang Capote lakukan, seperti yang King lakukan.
Tapi, kehidupannya tidak sesederhana tulisannya. Kuceritakan padamu bagaimana ia hampir mati dengan perlakuan kasar para berandalan yang hampir memerkosanya jika salah seorang pekerja menara Halley tidak menolongnya. Bagaimana ketika ia dituduh mencuri dan sesekali mendapat siksaan. Dan kematian Jack. Jack mati seperti seharusnya preman-preman mati. Dibunuh. Samantha Loner yang membunuhnya. Aku seharusnya tidak menceritakan ini karena akan merusak keluguan dan kepolosan Samantha. Tapi Jack-lah yang membunuh Ny. Lourie. Jack juga memerkosa Samantha dan satu kali melakukannya di sebelah Linda. Di saat itulah Samantha melihat mata ibunya yang seakan mengatakan padanya untuk mengakhiri hidup Jack. Samantha Loner punya cara sendiri menghabisi Jack seperti cara ia menulis kisahnya. Detailnya sangat jelas, sejelas suara kematian Jack dan darah yang mengalir deras keluar dari kerongkongannya yang robek dalam (Samantha meniru Perry Smith saat membunuh tuan Clutter. Dia ingin sekali melakukannya pada Jack). Dan untuk sebuah keberhasilan, ia membisikkan di telinga ibunya; “Aku membunuhnya, ma. Aku membunuh Jack.” Ia lalu menuliskannya dengan hati-hati.
***
Di malam peresmian menara Halley yang penuh keglamoran, Samantha duduk menyaksikannya dengan penuh kagum atraksi kembang api dan akrobat laser. Ia juga mendengar musik-musik indah dan pidato walikota Halley. Tapi ia masih bertanya-tanya mengapa walikota Halley melupakan buku yang akan dibelinya. In Cold Blood masih disimpannya. Buku yang sama ketika ia akan menyerahkannya pada walikota Halley beberapa waktu lalu. Mungkin ia akan mengingatkan pak walikota suatu saat nanti.
Taman itu ikut terang benderang karena cahaya kembang api yang mewarnainya. Ia bisa melihat orang-orang di taman dengan jelas yang sama-sama menikmati fantasi peresmian menara Halley. Ia bisa mengenali Tom, salah seorang pekerja menara Halley, orang yang menyelamatkannya dari anak-anak berandalan yang akan memerkosanya. Tubuhnya besar, rahangnya kuat, satu tangannya bisa mengangkat dua anak berandalan. Telapak tangannya mampu meremukkan kepala mereka saat itu. Teman-teman kerjanya memanggilnya Big Tom. Samantha menempatkan Tom di sebuah peran bagus dalam tulisannya dan terkadang ia melebih-lebihkannya.
Tom sedang memandangi hasil pekerjaannya dengan penuh kebanggaan, duduk di rerumputan sambil menikmati kacang dan beberapa kaleng minuman ringan di sampingnya. Setelah proyek menara Halley selesai ia berencana akan kembali ke pekerjaan lamanya sebagai tukang bersih di sebuah universitas. Proyek itu memberinya uang banyak sehingga ia mampu menyewa tempat yang lebih baik.
Samantha mendatanginya dengan diam-diam, mengira dapat mengejutkannya. Tapi tidak, ia tidak biasa melakukannya, ia hanya duduk di sampingnya.
“Halo Samantha” ucap Tom, mengusap kepala Samantha
“Hai, Big Tom” balas Samantha
“Kaulihat itu?” Tom menunjuk dengan tangan kanan yang memegang minuman ke arah menara Halley
“Big Tom yang membuatnya” ucap Samantha
“Gadis pintar” ia tersenyum padanya, mengambil satu kaleng minuman. “Haus?”
Samantha mengangguk. Ia tahu cara membukanya. Tom yang mengajarkannya saat pertama kali ia minum soda.
“Bagaimana ibumu?” tanya Tom, tapi ia buru-buru mengganti pertanyaan lain karena pertanyaan itu akan membuat Samantha sedih. “Bagaimana tulisanmu?” lanjutnya. Samantha pernah membuatkan puisi untuk Tom, berjudul “Temanku Big Tom”
“Tinggal sedikit lagi. Tapi aku belum tahu akhirnya”
“Kau akan tahu nanti” Tom berkata seolah-olah ia seorang penulis
“Apa?”
“Semua cerita ada akhir bukan?”
“Ya” Samantha meneguk minumannya
Nyala kembang api masih terus berlanjut, musik terus menghentak dengan akrobat laser meliuk-liuk di langit. Dua lelaki muda, entah darimana datangnya berdiri di hadapan mereka seakan sengaja menghalangi pandangan. Masing-masing memegang dua batang besi panjang. Cahaya kembang api yang menerangi tempat itu memberikan kejelasan dua lelaki itu. Satu orang berambut gondrong, satu lainnya berambut pendek. Sama-sama mengenakan jaket hitam. Mereka adalah berandalan yang hampir memerkosa Samantha. Dua berandalan yang pernah mendapat pukulan telak dari Tom.
Mereka melangkah mendekati Tom dan Samantha sambil memamerkan tongkat yang mengkilat tertimpa cahaya kembang api dan maksud yang jelas. Mereka akan menghabisi Tom di tempat itu.
Tom berdiri, Samantha mengikutinya dan bergerak mundur. Tom menyuruh Samantha berlindung di belakangnya. Matanya mengawasi gerakan mereka, tangan kirinya memegang tubuh Samantha supaya mengikuti gerak tubuhnya.
“Hei, aku tidak ingin macam-macam dengan kalian” Tom memperingatkan
Mereka menjawabnya dengan satu pukulan tiba-tiba ke kepala Tom.
Satu hantaman ke lengan Tom. Satu pukulan lagi mendarat di tulang rusuknya hampir mengenai kepala Samantha. Berikutnya hujan pukulan mendarat di ke lengan Tom, lalu kedua kakinya. Samantha mendengar jelas bunyinya. Tom hampir ambruk, dua tangannya menahan gencaran bertubi-tubi hujaman batang besi. Ia terus bertahan dengan tangannya yang bengkak dan mengeluarkan darah.
Tapi dua berandalan itu seharusnya butuh dari sekedar tongkat besi untuk menghabisi Tom. Tom bangkit berdiri, bergerak menyeruduk seperti banteng dengan dua tangan menutupi kepala menerobos gencaran pukulan bertubi-tubi, berteriak sebagai pengganti rasa sakit dan merebut satu batang besi. Kakinya gontai, tapi tangan kanannya masih cukup kuat untuk memberi pelajaran balasan pada mereka. Berandalan yang kehilangan tongkat besi mengeluarkan pisau dari balik bajunya. Melemparnya dan menangkapnya dengan tangan kiri dan kanannya bergantian, kemudian menusuk-nunusukkan ke tubuh Tom. Berandalan yang lain menghantam batang besi dari atas. Tom dapat menangkisnya sehingga menimbulkan bunyi yang keras. Disusul satu tusukan gagal ke arah perut Tom. Tom membalas dengan menendang kemaluannya dan membuatnya terjungkal. Ia membabat mereka dengan ganas hingga satu per satu dari mereka roboh. Bertubi-tubi mereka merasakan hantaman Tom. Naas nasib mereka tapi Tom sekali lagi hanya membuat pelajaran. Ia membiarkan mereka pergi.
Tom menjatuhkan diri, bertumpu pada dua lututnya dan batuk beberapa kali. Samantha ragu untuk mendekatinya, tapi akhirnya ia memaksakan diri mendekati Tom. Ia merasa bersalah. Tom sering kali berbuat baik pada dirinya. Begitu sedikit orang yang berbuat baik dalam hidupnya. Ia sudah kehilangan Ny. Lourie dan Nenek, dan kini ia hampir kehilangan Tom.
“Big Tom …” ia memanggilnya. Ia melihat darah di kepalanya, di tangannya dan bajunya. Tapi ia tidak bisa melihat wajahnya.
Tom lelah dan kesakitan. Ia memilih meninggalkan Samantha, menjauh darinya tanpa berkata apa-apa. Samantha memandang sedih Tom yang berjalan kelimpungan dan beberapa kali hampir jatuh. Kini pandangannya kosong seiring menghilangnya bayangan Tom di balik bayang-bayang pepohonan.
Gemerlap peresmian menara Halley terus berlanjut dan semakin marak. Sebuah pemandangan yang kontras dengan kehidupan Samantha Loner. Kemewahan. Samantha bahkan tidak tahu arti kata itu. Ia hanya tahu hanya sakit yang sepertinya sudah menjadi bagian dari hidupnya. Tom sudah pergi meninggalkannya, mungkin untuk selama-lamanya.
Ia mengambil sebilah pisau yang tergeletak di atas rumput. Sebuah pisau sepanjang dua puluh lima sentimeter yang mengkilap. Ia dapat melihat dirinya di situ. Pisau itu seakan menarik dirinya. Benda itu bagai sebuah harga yang pantas untuk membayar hari-hari yang menyakitkan, untuk orang-orang yang menyakitinya dan untuk sebuah akhir cerita. Ia menginginkan sebuah akhir bahagia, tapi apa yang ia tahu tentang kebahagiaan sangat berbeda dengan tafsiran kita. Baginya, cerita-cerita bahagia adalah cerita yang sama dengan dirinya. Carrie atau Misery, ia suka buku itu dan buku-buku yang mengajarkan cara menuntaskan penderitaan dengan dendam. Baginya, kebahagiaan adalah mengakhiri hidup orang yang mengancam dirinya. Tapi, sayangnya Tom tidak melakukan itu. Ia mengakhiri hidup Jack si perampok untuk membebaskan Linda dan untuk Ny. Lourie. Tom seharusnya melakukannya, atau ia yang akan melakukannya.
Samantha berjalan meninggalkan tempat itu mengikuti jejak-jejak darah dua brandalan tadi. Ia mempercepat langkahnya dan semakin cepat hingga ia berlari. Ya, si pincang itu berlari. Tangan kanan menggenggam kuat benda yang berkilauan itu. Semakin dekat dengan jarak dua berandalan tadi. Dari arah yang terukur, ia melompat menerjang salah satu berandalan di punggung. Ia menghujam yang lainnya. Serangannya yang tiba-tiba dan cepat itu mengakhiri hidup mereka tanpa perlawanan. Keduanya mati akibat tikaman yang dalam di leher mereka.
Samantha mendapatkan dirinya dalam keadaan yang mengerikan. Tangannya dan wajahnya penuh darah. Ia membuang pisau itu dan berjalan menyusuri taman. Ia membersihkan dirinya di air mancur cupid kecil. Ia tersenyum, karena bagaimanapun juga berandalan itu tidak akan pernah mengganggunya lagi. Ia melangkah menyusuri lorong Loner Street dengan tergesa-gesa, membawa akhir kisahnya.
“Tulisanku sudah selesai. Aku tinggal mengirimkannya. Kita akan mendapat uang banyak” ia membisik di telinga ibunya. Kali ini Linda dapat mendengarnya. Perempuan itu membuka sedikit matanya dan wajah Samantha.
Samantha mengirimkan tulisannya keesokan harinya, di hari yang sama polisi menangkapnya. Hasil pengadilannya jelas. Dua puluh lima tahun penjara. Waktu yang cukup banyak untuk menulis kisah lainnya.
Dan untuk sebuah kisah lain yang tidak ia ceritakan dalam bukunya, Linda mendapatkan ketenaran dan keglamoran. Bukunya dianggap sebagai In Cold Blood seri dua dan menjadi best seller selama beberapa minggu. Pers dan kritikus memuji keberhasilannya mengikuti kehidupan si pembunuh dan detail yang jelas mengecoh pembaca seolah itu adalah bacaan fiksi. Well, wanita itu menjawab bahwa ia pernah hidup dengan seorang pembunuh.
***
by : alireza
Minggu, 07 Februari 2010
CERPEN HOROR == KISAH SAMANTAHA LONER==
by Adin di 21.10.00 0 komentar
== MENUNGGU PELANGI==
“Pelangi!! Ayo kesini! Hujannya lumayan deras nihh! Nanti sakit loh!” teriakku sekencang – kencangnya ke arah Pelangi yang dari tadi mengincar air hujan yang berjatuhan. “ Bentar donk! Lagi seru main sama air nih! Lagian kalo disitu nanti kita ga bisa lihat pelangi tau!” balas pelangi dari kejauhan. Aku segera mendatanginya. “ Mana Ngi pelanginya?” tanyaku penasaran dengan kata–katanya barusan. Di situ aku pertama kali melihat pelangi yang indaaahh sekali bersama dengan sahabat setiaku, Pelangi. Oh iya. Kenalkan namaku Tito. Aku sudah duduk di bangku kuliah. Semester 4. Aku sangat suka dengan dunia balap. Piala dan penghargaan prestasiku di dunia balap juga ga dikit lho. Cuplikan tadi hanya seberkas cerita kecilku bersama sahabatku Pelangi. Dan itu adalah kali pertama kita melihat pelangi bersama – sama dan akhirnya menjadi hobi kita setiap ada hujan. Hari ini, begitu indah untuk seluruh keluargaku. Ayah baru saja pulang dari Amerika. Kenangan indah masa kecilku bersama ayahku kembali lagi di benakku. Tami dan Hugo juga terlihat senang. Terutama si Tami, adikku yang paling kecil sekaligus paling manja dan cerewet ini seakan tak mau lepas dari pelukan ayahku. Mama juga memasakkan makanan kesukaan semua anggota keluarga hari ini. Tak lama, rintik – rintik hujan mulai berdatangan. Makin lama makin deras. Ikan – ikan dibelakang rumah membiarkan nuansa hening dan damai dari rintik – rintik hujan menambah volume air di habitat mereka. Tumbuhan – tumbuhan juga membiarkan tetesan air membasahi permukaan daun mereka. Teringat kembali aku akan si Pelangi. Dia masih satu kampus denganku. Ku angkat telepon genggamku yang ada di atas sofa yang sedang kududuki sekarang ini. Aku mencari nomer telepon dari sahabat tercintaku itu. Setelah kutemukan, kutekan tombol berwarna hijau yang ada di antara beberapa tombol lain. Mulailah suara halus dan lembut menjawab panggilanku. Aku mulai berbincang dengan Pelangi dan mengajaknya pergi bersamaku untuk melihat pelangi di angkasa sebelum hujan reda. “ Hayo kak Tito janjian sama kak Pelangi yaaa......” tiba – tiba suara si Hugo menyadarkanku dari serunya pembicaraan dengan Pelangi. Segera kutarik kulit tangannya setelah aku menutup telponku dengan Pelangi. “ Apaan sih kamu itu! Masih SMP jangan ikut – ikutan! Kakak mau pergi sama kak Pelangi dulu. Ntar bilangin ke ayah sama mama oke?” aku bertutur kepada adik laki – lakiku yang rese’ ini. Seraya dia menjawab, “ Pake pajak dong kak!”. Aku tercengang. Si Hugo nyengar – nyengir ga karuan. Oke deh, aku kasih dia uang jajan. “ Hai! Udah lama ya? “ sapaku dengan menepuk pundak si Pelangi yang sudah menunggu beberapa menit. “ Eh? Oh, enggak kok. Baru 10 menit.” Jawabnya dengan lembut. “ Oh. Sorry ya udah buat nunggu.“ pintaku dengan penuh harap. “ Nggakpapa To. Santai aja deh.” Jawabnya dengan santai dan tulus. Pelangi langsung menunjuk ke langit yang sedang menurunkan air saat itu. Kami berdua langsung tersenyum bersamaan. Bangku taman yang kami duduki terasa hangat dan nyaman. Huft, seperti dulu lagi. Sangat indah saat ini. Sungguh romantis situasinya. Sempurna sekali dengan rencanaku yang sudah beberapa tahun kupendam. Aku merentangkan tanganku ke pundak Pelangi. Pelangi yang terkaget segera memandang wajahku. Dengan lirih aku menanyakan hal yang sangat sulit untuk ditanyakan dan dijawab. “Ngi. Ehm.., Pelangi. L, lo, lo mau ga…” aku berusaha bertanya dan mengeluarkan kata – kata. Pelangi menjawab tanyaku yang belum selesai kuucapkan “Mau apa To? Kalo bantuin lo, gue mau kok.”. “ Ituh, bukan. Bukan bantuin gue. Tapi lo mau ga… jadi.. jadi.. pa..” aku ga bisa mengeluarkan kata – kata dengan sempurna. “Huft.. ayo bicara Tito!” aku berbicara pada diriku sendiri dalam hati. Mobil Avanza berwarna silver menghampiri kita. “ Eh To. Ga terasa kita udah lama lho disini. Tuh kakak gue udah jemput. Ngomongnya besok dikampus ya. Oke friend??” seru Pelangi bergegas menghampiri mobil kakaknya. “ Eh, Ow. Oke deh. Bye..” aku menjawab seruan pelangi dengan kecewa karena aku ga bisa mengungkapkan rasa yang sudah lama ingin aku ungkapkan. Apa lagi, dia memanggilku ‘friend’, apa mudah buat aku nembak dia?? Di kampus, aku memulai pelajaran bersama semua teman – temanku yang menambah ceria hari – hariku. Seperti awalnya, anak – anak GALGOBHIN atau pasnya genknya si Rico, anak terpintar,terbaik, dan tersopan di penjuru kampus sekaligus rivalku untuk mendapatkan Pelangi ini menjawab setiap pertanyaan yang diajukan Pak Fardi yang adalah sang Master dari Matematika. Istirahat, aku menemui Pelangi duduk bersama Chika dan Tiwi di kantin. Aku meminta izin pada Chika dan Tiwi untuk berbicara sedikit dengan Pelangi. Dan aku diizinkan. Aku menarik tangan Pelangi ke depan pintu kantin. Dag dig dug makin terasa. Makin keras, keras, dan terasa jantung ini akan pecah. Mengapa? Karena aku berhasil dengan lancar menembak Pelangi. Sekarang aku tinggal menunggu jawaban. Kutatap matanya, ia juga menatap mataku. Dan jawaban apa yang kudapat? “Ehm, gimana yah? Oke deh. Tapi kita harus serius dan ga main-main oke?” Jelas saja kubalas “PASTI!!!”. Diriku serasa melayang bebas ke udara. Lalu kutemui bidadari di sana. Aku berdansa dengannya dengan disaksikan oleh keluarga dan sobat-sobatku disana. Siapa lagi bidadarinya kalau bukan Pelangi? Kita jadi sering banget jalan berdua. Dan sering juga melihat pelangi bersama-sama. Setelah gossip jadiannya aku sama Pelangi tersebar, Rico and friends mendatangi aku. Aduh, dia pasti bakal ngelabrak aku habis – habisan nih. Aku bergegas pergi dari dudukku. Tapi anak buah Rico menarik tas hitamku. Aku jatuh ke lantai dan merasa ketakutan sekali. Apalagi Dido dan Rahman yang bergabung di genk itu adalah juara boxing antar kampus. Keringat dingin bercucur dari dahiku hingga ujung dagu. Perlahan – lahan Rico menjulurkan tangannya. Aku memejamkan mata dengan kuat dan berusaha melindungi kepalaku dengan lenganku. Tapi apa? “ Slamet ya. Ternyata lo yang ngedapetin Pelangi duluan” Itu yang Rico ucapakan. Hah? Bener? Waw. Aku ga nyangka banget ada orang yang baik sampe kaya gitu. Makin seneng deh. Besoknya, aku berangkat ke kampus kaya biasa. Naik sepeda motor sama boncengin Pelangi. Pelangi juga memberiku gantungan kunci benang berwarna – warni mulai dari merah dan berurut sampai ungu. Ditengahnya terdapat plastik bertuliskan ‘Rainbow’ dan sekarang kugunakan untuk menghias kunci sepeda motorku. Pulangnya aku dikabarkan dengan kabar yang sangat tidak menggembirakanku. Ayahku masuk rumah sakit! Mengapa? Aku juga ga tau. Intinya, mama meneleponku dan memberitahu kalau ayah masuk rumah sakit. Segera kulajukan dengan cepat Sportbikes menuju rumah sakit. Aku melihat mama, Tami dan Hugo terduduk lemas di ruang tunggu. Aku segera menghampiri mama. “ Mama! Gimana ayah?!” bermuka pucat mama menjawab, “Ayahmu kumat lagi To. Padahal sudah lama penyakit ayah tidak muncul.” Aku terduduk lesu ke kursi di sebelah adikku Tami. Tami memandangi wajahku dengan raut wajahnya yang pucat dan berusaha menahan tangis. Aku mempersilahkan untuk meletakkan kepalanya di dadaku. Kupeluk erat badan mungilnya. Dengan isak tangis keluargaku benar - benar dipenuhi haru hari ini, Otakku berjalan lambat ke belakang dan membiarkan kotak di pojok otakku memutar kembali memori kita sekeluarga. Aku teringat beberapa minggu lalu saat ayah baru pulang dari Amerika. Keluargaku benar – benar senang dan bahagia. Hingga kutemui Pelangi dan kutembak dia. Saat ayah memberikan oleh – olehnya pada kami. Dan saat Hugo menggangguku ketika bertelepon dengan Pelangi. Oh betapa berbeda sekali dengan hari ini. “Tito!!” panggil mama dan menyadarkan lamunanku akan memori beberapa minggu lalu. Mama memberi kertas berisi biaya yang harus dibayar untuk perawatan ayah. “ Segini banyak, Ma?” aku bertanya heran pada mama. Mama menganggukkan kepalanya pertanda kata – kata “ IYA” Gimana cara mendapatkan uang sebanyak ini? Aduh… Pikiranku lebih kacau dan makin stress ketika Pelangi berkata ia akan pergi ke Australia. Ya ampun! Apa ada lagi cobaan yang akan menerkamku setelah ini? Ah! Terpaksa aku harus merelakan kepergian Pelangi ke Australia. Tapi kali ini lebih haru lagi yang kurasakan. Hatiku seakan dicabik – cabik. Aku berharap Pelangi bisa mengingatku di sana. Kuharap Pelangi juga akan menepati dan tidak mengingkari belasan janjinya padaku. Baiklah, aku masih punya gantungan kunci dari Pelangi. Aku harus memikirkan caraku mendapatkan uang untuk perawatan ayah. Tapi dimana? Oh iya! Ada Paman Heru! Paman yang paling berjasa di dunia balapku. Aku pergi ke rumah Paman Heru saat itu juga. Aku lihat Paman Heru sedang bersantai di depan rumahnya sambil minum kopi. Aku menyapanya dan mulai berbincang beberapa lama. “Kamu butuh uang berapa To?” Paman Heru bertanya sambil bersiap mengambil dompet kulit dari saku celananya. “Segini Paman” aku memberikan kertas yang diberikan mama saat di rumah sakit. “ Wah. Banyak nih To. Oke paman mau kasih. Tapi Cuma bisa seperempatnya aja. Sisanya cari sendiri oke?” sahut paman. “Oke deh paman.” Balasku sedikit kecewa. Paman Heru mengeluarkan hampir seluruh isi dompetnya. Ku raih uang itu. Aku mengucapkan terimakasih. “ Ehm, paman. Cari sisanya dimana yah? Maaf ya paman kalo ngrepotin..” “ Aduh dimana ya? Paman Heru udah jarang banget ketemu event – event balap.” Jawab Paman Heru. “ Bener nih Paman? Ngga ada sama sekali?” tanyaku sekali lagi untuk meyakinkan. “ Ada sih satu. Paman kemarin ketemu satu event. Hadiahnya lumayan gede juga” jawab paman sekali lagi. “Ya udah aku ikut.” Jawabku tanpa pikir panjang. “Tapi yang ngadain Komunitas Bali.” Ujar Paman. “Hah? Bali? Balap Liar paman?” tanyaku dengan heran. “Iya. Kamu tau kan konsekuensinya?” “Emmmm, oke deh gapapa. Pokoknya ayah sembuh.” Setelah kubicarakan hal ini dengan mama, Tami dan Hugo, tak ada yang menyetujui kesepakatanku kecuali Hugo. Hanya dia yang menyemangatiku saat itu. “ Udah To. Kalo ada barang yang bisa dijual, biar mama jual daripada kamu ikut balapan kaya gitu.” Mama melarangku. “ Iya kak. Biar nanti Tami jual gorengan atau apa gitu buat bayar biayanya ayah. Daripada kakak nanti kenapa – napa.” Tami yang masih di bangku SD itu juga berusaha melarang. Tapi keputusanku udah bulat. Aku akan tetap mengikuti balap ini. Hari yang kutunggu akhirnya tiba. Sudah siap aku di atas motor balapku ini. Tak lupa ada gantungan kunci dari Pelangi yang menemaniku. Para cewek – cewek di depanku menarik bendera hitam putih di tangan mereka. Segera melaju kami semua. Urutan pertama ada rivalku si Joe. Tapi aku berusaha menyalipnya. Beberapa lap sudah kulewati. Tinggal satu lap lagi. Aku masih di urutan dua. Joe mengencangkan lagi gasnya. Aku juga tak mau kalah. Aku tancap gasku. Kini jarakku dengan Joe hanya beberapa cm! Kutancap lagi gasku! Garis finish sudah ada di depanku. Mataku mulai jeli memainkan trik. Kutancap gas hingga aku berada di depan Joe. Kuhalangi laju motor Joe dengan zig zag. Tinggal sedikit lagi.. Ya, ya, ya.. YESSS!!! Aku berhasil mencapai urutan pertama di garis finish. Paman Heru berteriak menyemangatiku dari jauh. Para penonton menyoraki dan memberi tepuk tangan untukku. Sangat haru sekali. Sangat memuaskan. Tapi, polisi! Polisi! Polisi! Penonton berlarian kesana kemari. Para pembalap lain melaju kencang tak berarah. Paman Heru berteriak padaku “Tito!!!! Ayo pergi!!!! Paman ga mau kamu ditangkap polisi!!!” “Lhoh kenapa paman???!!!!! Aku kan belum dapat hadiahnya!!!!” teriakku membalas paman Heru. “Tito ini Balap Liar!!!!! Kamu lupa ya????!!!!!!” Jregg. Oh iya!! Aku baru teringat. Kutancap gasku. Aku melaju tanpa arah. Tak kusangka segerombolan cewek centil berlari dengan histeris di depanku. Aku rem motorku dengan sangat mendadak dan dengan kecepatan yang melebihi normalnya. Keseimbanganku goyah. Aku terjatuh dari motorku! Kaki kiriku tertindih body motorku. Sebelum kubebaskan kaki kiriku, kuraih dulu gantungan kunci dari Pelangi. Sedikit lagi…, yah! Aku berhasil membebaskan kakiku! Gantungan kunci dari Pelangi juga sudah kukantongi. Belum aku berdiri dari jatuhku, seorang pembalap dengan motor besarnya segera melindas kedua kakiku dengan kecepatan tinggi. Sakit sekali! Aku mengerang kesakitan. Benar – benar sakit. Lebih sakit daripada hatiku yang tercabik saat Pelangi pergi. Paman Heru datang menghampiriku. Belum sempat aku mendengar Paman Heru berbicara, pandangankupun gelap. Apa ini? Aku sudah mati? Oh aku sudah mati ya. Ternyata aku sudah mati. Perlahan – lahan aku membuka mataku. Rasanya sudah lama sekali aku tidur. Tapi ada mama di depanku. Tami dan Hugo juga ada. Baunya sama persis ketika aku melihat ayah yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Oh? Aku sedang ada di rumah sakit? Aku bangun dari tidurku. Kulihat anggota badanku. Ada yang hilang!! Kakiku!! Mana?? Dimana kedua kakiku? Tertanya peristiwa itu membuat aku kehilangan kedua kakiku. Harusnya aku menuruti nasehat mama dan Tami. Pasti tidak akan seperti ini jadinya. Ah! Tapi nasi telah menjadi bubur. Apa daya?? “Kak, waktu kakak koma, kak Pelangi dating kesini lho.” Kata Tami saat aku berbaring di ranjang tidur. “ Oh ya? Terus terus? Kak Pelangi bilang apa aja?” tanyaku penasaran dan langsung bangkit dari tidurku. “Enggak bilang apa – apa. Cuma kesini pegang tangan kak Tito terus pulang.” Jelas Tami. “Cuma gitu? Dia ga nitip apa – apa?” aku heran. “ Emm, enggak kok.” Jawab Tami ragu. “oh. Ya udah deh”. Siang itu hujan turun. Aku sangat ingat pada Pelangi. Soalnya dia pernah buat janji tiap ada hujan turun dia akan balik buat liat pelangi sama – sama. Dengan bantuan dorongan Hugo, aku menelusuri lorong rumah sakit hingga ke lobby dengan kursi roda. Kutunggu terus hingga Hugo tertidur di atas sofa. Tapi hingga larut ia tak juga datang. Namun aku sangat menyesal menunggunya sejak aku melihat surat yang terletak di atas meja. Andai saja waktu Tami bercerita padaku, aku tau kalau di tangannya ada surat dari Pelangi. Surat itu berisi : “Buat Tito sahabat gue sekaligus pacar gue yang paling gue sayang. To, gue minta maaf. Gue ga bisa balik lagi buat liat pelangi sama – sama lagi kaya dulu. Soalnya di sini gue udah ketemu ama cowok yang gue pikir bisa dampingin hidup gue. Tolong titip gantungan kuncinya ya. Rawat yang baik oke?” Itupun belum semua. Yang paling membuat aku menyesal menunggunya semalaman adalah kalimat terakhir dari suratnya. Yaitu: “Gue ga bisa hidup sama orang cacat kaya lo” Kini kusadari, pelangi hanya terbentuk dari pembiasan yang tidak nyata. Namun bisa membuat satu cahaya putih menjadi bermacam – macam warna. Tetapi pelangi hanya sementara dan bila tak ada air dan cahaya pelangi hanya akan mengingkari janjinya untuk menyinari dunia. Sama seperti si Pelangi. Pelangi memiliki ciri – ciri yang kuimpikan namun tidak nyata di hatinya. Ia bisa membuat hidupku berwarna dan ceria. Tapi hiburan itu hanya sementara untukku dan bila tidak ada diriku yang utuh seperti dulu, ia mengingkari janjinya dan berpaling.
BY :ivana
by Adin di 21.04.00 0 komentar
cerpen == SATU PERSAHABATAN DALAM HIDUPKU== (by : nhumodz)
Aku sedang berjalan kearah luar gang rumahku menuju sekolah. Tetapi sebelum aku berangkat sekolah, aku harus menunggu Dina yang sedang menuju kearah depan gangku. Kulihat kedepan sana tetapi tidak seorangpun tampak, ketika aku sedang menunggu Dina, aku melihat dua orang teman sekelasku berjalan kearahku. Ya… itu Lila dan Uswah. “ Hey Nad… kamu kaq belum berangkat sekolah seh?!! “ Tanya Lila kepadaku.“ owh iya neh aku sedang menunggu Dina. “ Jawabku.“ ohh kamu sedang menunggu Dina, tapi Nad 10 menit lagi sekolah masuk tau!! Kamu ga takut telat??? “ Tanya Uswah kepadaku.“ ya udah kalau geto kita berangkat sekolah bareng ya?!! “ pintaku kepada Lila dan Uswah. Merekapun mengiyakan ajakanku dan segera melangkahkan kaki untuk menaiki angkutan umum yang akan mengantarkan kami kesekolah. **** “ NADIAAA…!!! “ teriak Dina sambil melangkahkan kaki dengan cepat kearahku.“ Eh… Dina?!! ““ Eh… Dina, Eh… Dina lagi, kamu koq ninggalin aku seh Nad??? Tadi tuh aku kerumahmu tapi kata kakakmu, kamu baru aja berangkat!!! ““ Mmm…Sorry deh, abis kamu lama seh “.“ iiihh… kan udah aku bilang tunggu sampai aku datang?!! ““ iya…iya…sorry, udah donk jangan marah marah terus, kaya nenek – nenek aja!!! “.“ enak aja! Kamu tuh yang kaya nenek – nenek!!! “ jawab Dina dengan tampang kesalnya. Melihat Dina mau marah-marah lagi, akupun berlari meninggalkan Dina menuju kelas dan duduk ditempatku, Dinapun berteriak – teriak sambil berlari-lari kecil kearahku dan melanjutkan ocehan – ocehan yang tadi tertunda. Aku dan Dina bersahabat sejak duduk disekolah menengah pertama kelas 1 hingga duduk disekolah menengah kejuruan kelas 2. Orang tuaku sangat akrab dengan Dina, begitupun sebaliknya. Sudah seperti saudaraku sendiri. ****“ Lila… Uswah… “ panggilku. “ ya Nad, ada apa?!! “ jawab Lila.“ nanti pulang bareng ya!!! “. “ oh itu, liat nanti aja ya!!! “ jawab Lila.“ oce dehh, Mmm… tapi besok berangkat bareng lagi ya??? Aku tunggu kalian berdua di tempat tadi, oce?!! “. “ oceee…!!! “ jawab mereka berdua dengan kompak. Semenjak kami sering pulang dan berangkat sekolah bersama, kami menjadi semakin akrab. Tidak hanya pulang dan berangkat sekolah saja kami bersama tetapi kemanapun dan acarapun kami selalu terlihat bersama. Dan sejak saat itulah satu persahabatan dalam hidupku tersulam kembali.****“ koq Lila, Dina dan Uswah agak beda ya?? Apa mereka sedang ngerjain aku ya?!! “ aku duduk termenung dikelas yang masih kosong. “ Mmm… mungkin hanya perasaan aku saja kale ya?!! “ ujarku dalam hati. Aku merasa beberapa hari ini Lila, Dina dan Uswah agak cuek kepadaku. Mungkin karena sebentar lagi hari ulang tahunku. Padahal aku merasa karena mereka cuek kepadaku. “ Eh Nad… bengong aja kamu!!! “ ujar Uswah membuyarkan lamunanku. “ ah nggak koq!!! ““ oya Nad, besokhari minggu teman – teman sekelas ngajakinkita lari pagi bareng. Kamu ikut kan? “ Tanya Dina. “ gat au deh, lihat besok aja ya?!! MALEEZZ tau, masa liburan gene masih keluar juga…! Acara kelas lagee!!! ““ Nad pokoknya kamu harus ikut, kalau ga ikut dapet hukuman loh. “ Ujar Lila menakutiku. “ Memangnya anak SD… masih ada hukuman, udah pokoknya lihat bezok aja deh, ya.. ya..!!! “.“ YOII !!! “ jawab Uswah dengan singkat. Aku sudah menduga pazti mereka merencanakan sesuatu untukku esok hari. Aku merasa sangat penasaran dan agak sedikit takut. “ Aduh aku dating nggak ya besok??? Pasti mereka belez dendam deh ke aku karena kemarin yang nerjain mereka adalah aku!!! “ ucapku dalam hati.“ udah deh lihat besok aja…! Kalau aku dijemput ya aku pergi, tapi kalau aku ga dijemput ya aku nggak pergi!!! “ kataku dalam hati lagi dengan memejamkan mata untuk tidur walaupun dengan sedikit perasaan gelisah. Tik…Tok…Tik…Tok…, tepat jam 12 malam tiba – tiba aku terbangun karena mendengar suara telepon berdering. Akupun dengan segera mengangkatnya. “ Hallo… “ sapaku.Tak ada jawaban dari seberang.“ Hallooo… “ aku menyapa sekali lagi.Masih tidak ada jawaban jawaban juga. “ HAPPY BIRTHDAY TO U HAPPY BIRTHDAY TO U HAPPY BIRTHDAY HAPPY BIRTHDAY, HAPPY BIRTHDAY NADIA…!!! Terdengar nyanyian dari seseorang di seberang sana.“thanks ya!!! “ aku terharu.“ Met ultah Nadia! Ketujuh belas ya? Semoga kamu tambah dewasa, tambah cantik dan tambah gokil!!! “ ujar Isti.“ Paztee..!! ““ Nad sorry neh aku ga bias telepon kamu lama – lama soalnya aku ngantuk! Kamu met tidur ya Nad, sorry ganggu, bye Nadia…!!! ““ Bye!!! “ Isti adalah kakak kelas disekolahku. Dia sangat baik kepadaku tetapi sejak ia lulus aku jarang sekali bertemu dengan sia mungkin bias dibilang tidak pernah lagi. Ya… mungkin dia sibuk dengan kegiatan barunya.****“ iiihh.. Alarm berisik banged seh!!! Kan masih ngantuk?!! “ gerutuku. Akupun segera bangun dan beranjak merapikan diri. Walaupun berat dan malas sekali rasanya tetapi pagi ini aku harus pergi karena sudah mempunyai janji untuk lari pagi bersama teman sekelasku. Walaupun aku tahu kalu hari ini mereka sudah mempunyai rencana untuk mengerjaiku. “ Assalamu’alaikum…!!! ““ Wa’alaikumsalam… “ jawabku sambil membukakan pintu.“ Hey Nad?!! ““ Hey! ““ Gimana udah siap belum? Teman – teman udah nunggu kamu tuh!! ““ Iya.. Iya.. sabar donk!!! “ kataku sambil melangkahkan kakiku kearah timur. Ternyata teman – teman sekelasku tidak dating semua pagi ini dan ternyata dugaanku tentang semua itu salah, merekatidak mengerjaiku. Aku merasa sangat senang. “ Upss.. tapi tunggu sebentar, sebuah telur mendarat dengan tepat diatas kepalaku!!! “. Akupun berteriak dan mengejar-ngejar Uswah dan teman yang lainnya. Merekapun semua berlari menjauhiku. **** " Assalamua’laikum…!!! Uswah… Uswah… “ Ucapkku setelah sampai didepan pintu rumahnya.“ Wa’alaikumsalam… ohh… Nadia, ayo masuk dulu Nad!!! “. Uswah mempersilahkan aku masuk kedalam rumahnya. “ Tunggu sebentar ya nad, aku mau siap – siap dulu, nanti bila Lila dan Dina datang kita bias langsung berangkat kesekolah..! ““ iya.., tapi jangan pake lama, nanti aku jamuran lagi?!! “ jawabku sambil tersenyum kecil. Tidak lama setelah Uswah berseragam sekolah rapi, Lila dan Dinapun datang. Aku dan Uswah segera keluar rumah dan memakai sepatu dengan cepat. “ yoo.. kita berangkat “ ucap Uswah setelah kami berpamitan dengan orang tuanya. Lalu kami bertiga menganggukan kepala dengan serempak sambil tertawa. Diperjalanan menuju sekolah, seperti biasa kami berempat bercerita dan bercanda tanpa merasakan teriknya matahari yang menyengat tubuh, karena kami terlalu asyik dengan candaan konyol Uswah yang membuat perut kami terasa sakit. Alangkah senangnya kami setiap hari seperti ini, selalu bersama – sama. Ketika angkutan umum yang kami tumpangi sudah mengantarkan sampai tujuan dan pergi berlalu. Tiba – tiba Lila berbicara dengan kerasnya dan membuat aku, Dina dan Uswah kaget. “ HEYY!!! Udah jam12.30 loh!!! “ Lila berusaha memberi tahu bahwa kami sudah terlambat masuk sekolah. Kami berlari – lari saling mendahului, sambil tertawa dan berbicara, “ tungguin donk, jangan cepet – cepet?!! “. Huh… lelahnya kami setelah berlari-larian. Kami berjalan perlahan menuju kelas dan sampailah didepan pintu kelas, lalu mengetuk pintu dan membuka dengan mengucapkan salam, lalu mencium tangan guru yang memang sudah duduk lebih awal sebelum kami datang. Kami mengawali hari dengan terlambat masuk sekolah yang memang bias di bilang ritinitas kami setiap harinya. Dan sekarang waktunya kami memandangi papan tulis yang penuh dengan huruf dan berbaris membuat shaf dan banjar. 1 jam, 2 jam, 3 jam, begitu bosannya kami belajar, hingga akhirnya bel istirahatpun berbunyi. “ Akhirnya istirahat juga…!!! “. Kataku dalam hati.“ Nad, La, Din keluar yoo, Laperr nehh!!! “ ajak Uswah. Kamipun berdiri lalu berjalan keluar kelas menuju tempat yang bisa menghilangkan rasa lapar dan haus. “ Makan… Makan…!!! Kita mau makan apa neh??? “ Tanya Uswah dengan bawelnya dan ketidak sabaran dia menunggu jawaban kami.“ Terserah deh “ ucap Dina dengan singkatnya. Tanpa menunggu jawaban dari aku dan Lila, Uswah pun mengambil bakwan dan memasukkannya kedalam mulut, lalu dilanjutkan Lila, aku dan Dina. Setelah selesai makan, kamipun beranjak menuju masjid untuk melaksanakan shalat ashar. Waktu istirahatpun berakhir. Kami berempat memasuki kelas yang memang sudah ramai dengan teman – teman sekelas kami. Melanjutkan pelajaran yang tertunda. Iseng – iseng saat guru menjelaskan, aku menjaili Uswah dengan mengikat ujung jilbabnya. Teman – teman yang berada dibelakangku tertawa – tawa dan berkata “ Dasar Jail?!! “. Aku hanya senyum – senyum kecil saja karena takut Uswah menyadarinya. Bel pulang berbunyi, waktu kami pulang. Menaiki angkutan umum bersama, lalu berpisah ditengah perjalanan. “ aku duluan ya…!, Bye…bye….!!! “ ucapku sambil melambaikan tangan kepada Lila, Dina dan Uswah. Selama ini kami selalu bersama, baik susah maupun senang kami lewati bersama dan kami bersahabat cukup lamanya. Tetapi kenapa sudah beberapa hari ini, aku merasa persahabatan kami agak merenggang. Aku bersama dengan Lila sedangkan Uswah bersama dengan Dina. Aku merasa ada pembatas antara kami. Kepercayaan sedikit hilang. Banyak hal yang aku dan Lila sembunyikan ataupun sebaliknya Uswah dan Dina. Aku merasa cukup kehilangan dan sedih. “ Ada apa dengan persahabatan kami saat ini?? “ tanyaku dalam hati.“ apa penyebab ini semua, apakah bisa kami seperti dulu lagi, bercanda tawa dengan lepasnya tanpa adanya pembatas antara kami? “ sekali lagi aku bertanya pada diriku, tetapi sampai saat ini aku belum mendapatkan jawabannya. Kupandangi foto dalam bingkai, foto kami berempat. Aku, Lila, Dina dan Uswah. Sungguh satu persahabatan dalam hidupku yang begitu indah dan mengasyikan. Satu hal yang kusesali saat ini, “ mengapa aku harus egois dan diam saat melihat persahabatan ini hancur??! “ sesalku dalam hati. Perjalanan hidup memang panjang. Membawa pertemuan dan perpisahan. Hari ini aku bertemu, besok aku berpisah. Namun seiring waktu berjalan kita tetap harus menjalani hidup ini dan memikirkan tujuan masa depan kita. Walaupun persahabatan ini bukan yang pertama bagiku, tetapi satu persahabatan inilah yang dapat membuat hari – hari dalam hidupku menjadi lebih bermakna.
by Adin di 20.53.00 0 komentar
aku senang bersekolah di SMPN 2 pekalongan,,
sekolah ini berstandar internasional, bersih dan disiplin...
selain itu teman - temanku menyenangkan, pintar, cantik, cakep,,,, (hehehe)
guru - guru disini jika mengajar enak, dan ramah...
by Adin di 20.45.00 0 komentar
Jumat, 05 Februari 2010
Humor
LOMBA KARYA ILMIAH REMAJA
Di ruang perpustakaan sekolah sedang terjadi diskusi yang serius antara guru dengan seorang muridnya yang kepingin banget jadi anggota LKIR.
Guru : "Apa yang dapat kamu sumbangkan untuk LKIR sekolah kita?"
Murid: "Sebuah penemuan dari penelitian yang saya lakukan sendiri."
Guru : "Apa itu?"
Murid: "Menggabungkan (stek) 2 jenis tumbuhan yang sangat berlainan species. Dan ternyata berhasil."
Guru : Apa 2 jenis tumbuhan itu...?
Murid: "Kelapa dan singkong."
Guru : Terdiam, sepertinya tidak percaya. "Lalu apa yang terjadi dengan kedua tumbuhan itu?"
Murid: "Jadi gethuk."
BELI TELUR AYAM KECIL - KECIL
Dua gadis remaja pergi ke pasar diminta ibunya beli telur ayam. Terjadilah negosiasi atau tawar menawar antara kedua gadis dengan pedagang telur ayam.
Gadis : "Bang! telur ayamnya berapa satu kilonya?"
Pedagang : "Tujuh Ribu Rupiah 1 Kilo neng."
Gadis : "Boleh Kurang gak Bang?, Enam Ribu saja ya?"
Tawar menawar akhirnya disepakati dengan harga Enam Ribu Limaratus Rupiah, saat diberikan telur ayam tersebut si gadis berkomentar!
Gadis : "Bang,Kog telurnya kecil-kecil ya?"
Pedagang : "Oh..Neng segini saja ayam saya kemarin abis dioperasi!"
Komentar pedagang sambil memberikan uang kembalian buat gadis yang cengar-cengir berdua
DIMARAHI IBU KARENA MEROKOK
Seorang ibu sedang memarahi anaknya yang ketahuan merokok.
Ibu : "Kamu masih kecil sudah merokok mau jadi apa nanti kamu?"
Anak : "Oh maaf bu saya hanya memberi contoh ke adik-adik."
Ibu : "Memberi contoh supaya adikmu ikut-ikutan merokok?"
Anak : "Oh tidak bu saya hanya memberi contoh kalau merokok itu... pasti kena marah ibu."
by Adin di 17.09.00 0 komentar
Ubi Jalar merah, makanan “ndeso” kaya manfaat
Ubi jalar merah tu tanaman yang tumbuh subur di Indonesia. Selain mudah didapat, ubi jalar dapat diolah menjadi beranekaragam makanan yang bergizi n lezat. Tapi, Ubi jalar biasanya hanya dikenal di kalangan rakyat pedesaan, padahal nih, ubi ini mengandung beragam gizi yang sangat baik buat tubuh, kasiatnya gak bisa diabaikan,sekelompok antioksidan yang tersimpan dalam ubi jalar merah mampu menghalangi laju perusakan sel oleh radikal bebas. Dengan menyantap ubi jalar merah 2 – 3 kali seminggu, akan membantu kecukupan serat. Apalagi kalo dimakan bersama kulitnya, akan menyumbang serat lebih banyak lagi. (nyam, nyam…)
Ubi jalar termasuk umbi – umbian murah yang jarang didapati di menu keluarga kita. (bener kan???!) Namun, di dapur barat, ubi ini merupakan makanan primadona. Pada perayaan hari besar seperti Natal, Thanks Giving Day, Penduduk AS lazim membuat sajian eksklusif dari ubi jalar, seperti : cake, kue kering, salad, es krim, puding, muffin, kroket, sup krim!!! Meski disebut ubi jalar merah, warna daging buahnya tidak merah (kok??!!). Tapi kekuningan, hingga jingga alias oranye…
Ubi jalar kaya akan betakaroten. Betakaroten merupakan zat pembentuk vitamin A dalam tubuh. Sekelompok antioksidan yang tersimpan dalam ubi jalar merah mampu menghalangi laju perusakan sel oleh radikal bebas. Karenanya ubi jalar merah dapat mencegah kemerosotan daya ingat dan kepikunan, penyakit jantung koroner, serta kanker. Bahkan dapat membuat kita awet muda!! (^^). Ubi jalar merah juga kaya akan vitamin E. Dari 2/3 cangkir ubi merah kukus yang dilumatkan, diperoleh asupan vitamin E untuk memenuhi kebutuhan satu hari. (hmm…)
Manfaat lain ubi jalar adalah mengendalikan produksi hormone melatonin yang menghasilkan kelenjar pineal dalam otak. Melatonin merupakan antioksidan andal yang menjaga kesehatan sel dan system saraf otak , sekaligus meraparasinya jika ada kerusakan. (waow!!) Kurang vitamin A, dapat menghambat produksi melatonin n menurunkan fungsi saraf otak sehingga muncul gangguan tidur n berkurangnya daya ingat. Selain itu dapat menurunkan produksi hormon endokrin sehingga system kekebalan tubuh menurun. Kondisi ini memudahkan terjadinya infeksi n mempercepat laju proses penuaan. (“-_-)
Uniknya, kombinasi vitamin A (betakaroten) n vitamin E dalam ubi jalar merah bekerja sama menghalau stroke dan serangan jantung. (???!!) betakarotennya mencegah stroke, terus vitamin E-nya mencegah terjadinya penyumbatan pembuluh darah, so, munculnya serangan jantung dapat dicegah. Manfaat tersebut didukung oleh serat yang terdapat dalam ubi jalar yang bekerja seperti busa spon (kok??). Serat menyerap kelebihan lemak / kolestrol / sehingga kadarnya dalam darah akan tetap terkendali.
Begitulah Ubi jalar merah. Rasanya memang sederhana, namun mudah dikombinasikan dengan makanan lain menjadi menu yang lezat (yummi) n baik untuk kesehatan kita .
Sumber : Koran suara merdeka
*************
by Adin di 16.49.00 0 komentar
-=- TUTORIAL FRONTPAGE-=-
lebih jelas, lihat di sini
Definisi
Kata ini sering digunakan dalam Frontpage, jadi pelajarilah !
* Hyperlink - Teks atau gambar akan keluar jika bagian ini di klik .
* Pixel - Ukuran untuk satuan dalam web. Satu pixel sama dengan ukuran 12 pada font Arial.
* Shortcut menu - Seperti Program lainnya, adalah jalan masuk pintas ke menu dengan mengklik kanan mouse.
* URL (Universal Resource Locator) - Alamat situs web. biasanya seperti ini"http://" lokasi alamat situs/domain .
* Web - dalam FrontPage, web anda atau situs anda
Layar FrontPage
Terletak dibawah diagram default page layout dalam FrontPage. Anda bisa merubah view beragam tampilan dengan memilih View Option.
Views
* Page view memperlihatkan halaman web yang akan diedit atau dibuat web
* Folders view daftar semua file dan folder dalam web untuk memudahkan dalam mengaturnya.
* Reports view mengidentifikasi masalah yang berhubungan dengan halaman dan links dengan web termasuk halaman yang lambat saat loading, broken links, dan kesalahan lainnya. Navigation view daftar perintah navigasi dari situs ini dan mengijinkan untuk anda atau user untuk melihat halaman ini.
* Hyperlinks view mengijinkan anda untuk mengorganisasi link dalam halaman web
* Tasks view menyediakan suatu keterangan untuk anda masukkan dalam tugas yang anda butuhkan untuk menyelesaikan suatu halaman web.
MenggunakanWeb dengan Web Wizard
1. Buka Frontpage dan pilih File|New|Web... dari menu bar atau klik panah kecil kebawah selanjutnya klik tombol New pada standard toolbar dan pilih Web....
2. Pilih Tipe web yang ingin dibuat. Biasanya yang terbaik adalah One Page Web yang mana anda bisa membuat halaman kosong yang anda butuhkan. Masukkan lokasi dari web pada lokasi yang disediakan dengan "http://". Lokasi ini dimana anda bisa melihat hasil dari web yang telah anda buat dalam komputer. Dan ini harus di copy kan ke server untuk dapat dilihat melalui WWW.
3. Klik OK dan tunggu FrontPage untuk menyelesaikan web.
4. Sekarang, Mengexplore web anda. Klik Folders view untuk melihat halaman awal (default.htm) yang telah dibuat. "images" folder dimana anda akan menempatkan semua graphics dan foto. Untuk menyimpan image bentuk jpg ataupun gif sebaiknya ditempatkan pada suatu folder khusus untuk mempermudah dalam pengaturan.
5. Klik pada Reports view untuk melihat daftar dari report dari situs yang sedang dibuat. Disini anda bisa melihat hyperlink yang kurang baik dan memperbaiki halaman yang terlalu panjang. Melihat navigasi dengan mengklik Navigation view. Sekarang, hanya ada satu halaman web yang terdafta r. Untu k itu coba buat beberapa halaman, ini akan membantu bagaimana beberapa halaman akan melakukan link.
6. Hyperlinks view akan mengijinkan anda untuk mengatur links dari halaman web.
7. Optional - dalam Tasks view, daftar dari pekerjaan yang harus diselesaikan dalam menyelesaikan pembuatan web. Pilih Edit|Task|Add Tasks untuk memasukkan task. atau klik panah kebawah disamping New button pada standard toolbar.
8. Membuat halaman dan menyimpannya, menandainya sebagai halaman yang siap digunakan dapat dilihat pada task view.
9. Klik Folders view untuk menem patkan halaman berikutnya yang sedang dikerjakan.
10. Ketika halaman web siap, anda siap untuk mempublishnya dengan mnyimpannya pada server anda..
Membuat Halaman Web dari Template
FrontPage menyediakan banyak halaman templates yang akan bisa dimasukkan dalam web. Ikuti langkah dalam memilih template web page.
1. Pilih File|New|Page... dan pilih salah satu t emplate.
2. Pilih template dan klik OK.
3. Ganti teks yang ada dengan teks yang anda miliki dan foto dengan yang anda miliki. .
Report View
Ketika selesai membuat web, klik Reports view untuk melihat apakah linknya sudah benar, dan gunakan Reporting toolbar to untuk berpindah antar reports.
Membuka Web
Untuk membuka web yang telah anda buat, pilih File|Open Web... dari menu bar. Pilih web folder dari daftar dan klik Open.
Menyimpan Web
Simpan semua halaman web yang telah dibuat dengan Frontpage. Selanjutnya simpan dalam web server anda.
by Adin di 04.30.00 0 komentar
Jumat, 22 Januari 2010
Artikel
Kita semua butuh belajar. Belajar dilakukan seumur hidup, dari masa bayi kita hingga nanti kita menutup mata. Bagi yang masih duduk di jejang pendidikan, baik tingkat SD, SMP, SMA / SMK, atau bahkan kuliah, belajar merupakan hal yang sangat penting. Belajar dapat dilakukan dimana saja. Di rumah, sekolah, kebun binatang, taman nasional , dll. Di jaman yang maju ini, kita dapat belajar atau mendapat pengetahuan dari berbagai media, seperti media cetak (koran, majalah, buku - buku bermutu), media elektronik (televisi,radio,internet). Bagi yang sekarang sedang bersekolah, pasti, setelah guru menerangkan suatu pelajaran hingga bab itu selesai, maka guru akan mengadakan suatu tes. Tes itu berguna untuk menguji, apakah selama ini kita mengikuti dan memahami pelajaran yang diterangkan dengan baik. Agar kita dapat mengerjakan tes dengan baik, kita harus belajar dengan baik, bukan? Nah, saya ingin membagikan sedikit tips dan trik bagaimana cara belajar yang baik.
- Mengadakan belajar kelompok
Kita dapat merasa lebih santai, karena ada teman - teman yang menemani kita belajar. Selain itu, jika kita meng hadapi suatu kesulitan dalam suatu pelajaran kita dapat menanyakan atau membahas hal itu bersama teman - teman kelompok belajar kita.
- Membuat ringkasan setiap pelajaran yang telah diajarkan
Dengan membuat ringkasan, kita dapat dengan mudah mengingat kembali apa yang telah dituturkan guru saat di sekolah, sehingga kita dapat menghemat waktu.
- Konsentrasi dan disiplin belajar
Jangan menunda - nunda waktu belajar . Usahakan kita fokus pada pelajaran yang sedang kita pelajari, sehingga kita tidak membuang - buang waktu. oleh karena itu berkonsentrasilah jika sedang belajar.
- Tekun
Jangan belajar jika hanya ada ulangan. Belajarlah setiap hari. Dengan begitu kita dapat lebih siap dalam menghadapi suatu tes. Hindari belajar SKS (Sistem Kebut Semalam). SKS tidak efektif,bahkan hal itu dapat menyebabkan kita kelelahan di keesokan harinya.
- Hindari mencontek
Mencontek dapat merugikan diri kita sendiri. Selain itu kita dapat menjadi orang yang curang dan pembohong, karena kebiasaan ini sulit dihilangkan. Untuk apa mendapat nilai bagus jika itu adalah jerih mencontek???!!!
by Adin di 06.14.00 0 komentar
Tentang saya
Nama lengkap saya adalah Audine Amelly. Saya lahir di Surabaya, tanggal 26 November 1996. Di sekolah saya biasa dipanggil Audin atau bahkan hanya Udin. Namun saya senang dipanggil seperti itu karena dapat menambah keakraban saya dengan teman - teman saya. Saya bersekolah di SMPN 2 Pekalongan, kelas 8A. Kebanyakan anak - anak dari kelas kami adalah anak jail, namun kami selalu kompak dan berprestasi.
by Adin di 05.53.00 0 komentar
Sabtu, 16 Januari 2010
Tugas TIK pertama
Tugas TIK
1. Bandwidth adalah luas atau lebar cakupan frekuensi yang digunakan oleh sinyal
dalam medium transmisi.
2. URL singkatan dari Uniform Resource Locator, adalah rangkaian karakter menurut
suatu format standar tertentu, yang digunakan untuk menunjukkan alamat suatu
sumber - seperti dokumen dan gambar - di Internet.
3. Hyperlink adalah sebuah acuan dalam dokumen hiperteks (hypertext) ke dokumen yang
lain atau sumber lain.
4. LOGIN adalah proses untuk mengakses komputer dengan memasukkan identitas dari
akun pengguna dan kata sandi guna mendapatkan hak akses menggunakan sumber daya
komputer tujuan.
5. LOGOUT digunakan untuk mengakhiri sesi.
6. UPLOAD adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan proses pemindahan data
elektronik antara dua komputer atau sistem serupa lainnya.
7. Freeware adalah perangkat lunak komputer berhak cipta yang gratis digunakan tanpa
batasan waktu.
8. Shareware adalah perangkat lunak komputer yang mewajibkan penggunannya untuk
membayar.
9. GIF memiliki ciri:
* Mampu menayangkan maksimum sebanyak 256 warna karena format GIF menggunakan
8-bit untuk setiap pixel-nya.
* Mengkompresi gambar dengan sifat lossless
* Mendukung warna transparan dan animasi sederhana
JPEG biasa digunakan untuk foto
10. SPAM adalah penyalahgunaan dalam pengiriman berita elektronik untuk menampilkan
berita iklan dan keperluan lainnya yang mengakibatkan ketidaknyamanan bagi para
pengguna situs web.
by Adin di 21.37.00 0 komentar
